Selamat Datang di website Resmi Desa Timuhun

Perbekel Desa Timuhun

I Putu Arsana

Sejarah Desa

  • Dibaca: 397 Pengunjung

SEJARAH DESA TIMUHUN

         Desa Timuhun merupakan salah satu Desa di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Secara etimologi Timuhun berasal dari kata "Patemuan" yang dalam Bahasa Indonesia berarti pertemuan. Pertemuan yang dimaksud adalah aufklarung, penerangan agung terhadap keempat pihak kelompok penduduk yakni rakyat yang berasal dari Kerajaan Gelgel, Gianyar, Bangli, serta dari Dalem tarukan yang dulu datang ke daerah ini untuk saling menyerang. Aufklarung memberikan penerangan terhadap keempat pihak atas kesalahpahaman diri masing-masing yang mengakibatkan pertempuran tersebut serta banyak korban yang berjatuhan. Pertemuan agung tersebut mengajak rakyat untuk mengintropeksi diri masing-masing serta menghayati kembali dari akibat peperangan yang telah berlangsung. Atas kesepakatan bersama pertemuan agung tersebut, rakyat berikrar untuk menghentikan peperangan untuk tidak mengadakan permusuhan lagi

           Menurut sumber data yang penulis dapatkan melalui Babad Pasek dan Babad Pulasari bahwa daerah ini sekarang adalah Desa Timuhun. Pada mulanya yakni pada masa Kerajaan Gelgel merupakan medan pertempuran antara Kerajaan Gelgel dengan Kerajaan Dalem Tarukan. Raja yang berkuasa pada masa Kerajaan Gelgel pada masa itu adalah Raja Ketut Ngelesir. Kerajaan Tarukan yang dianggap musuh pada masa itu berlokasi di daerah Bangli, sekarang yaitu disebelah utara Desa Bangbang.

           Dalam usaha beliau dalam menjalin hubungan persahabatan dengan daerah-daerah tetangga, Raja mengutus dua orang bawahannya masing-masing Kyayi Made Pasek Gelgel dan Sire Pande Kamasan untuk menghadap Dalem Tarukan. Denagn kedua utusan tersebut, Raja Gelgel bermaksud untuk mengutus dua Putra Dalem Tarukan untuk menghadap ke Kerajaan Gelgel dengan maksud seperti tersebut diatas yaitu untuk menjalin hubungan baik. Namun kedua Putra Dalem Tarukan salah sangka atas kedatangan kedua utusan tersebut, disangka kedatangan mereka sebagai musuh yang ingin menundukkan serta menguasai Dalem Tarukan. Berkenaan dengan prasangka tadi Dalem Tarukan menyerahkan rakyat serta bala tentaranya untuk mengusir utusan itu dengan kekuatan tiga orang patih masing-masing yaitu I Gusti Pulasari, I Gusti Sekar, dan I Gusti Poh Tegeh, serta seorang saudaranya Dewa Kubu Bakal (kedudukan beliau dulu di sekitar Desa Putung Karangasem). Dalem Tarukan dengan mudah mengusir utusan Gelgel tersebut. 

          Mendengar perlakuan Dalem Tarukan seperti itu Raja Gelgel merasa terhina, segera mengutus tiga orang kepercayaan beliau yakni I Gusti Kuta Waringin, I Gusti Kebon Tubuh, dan I Gusti Arya Blangbangan, bersama-sama dengan bala tentara kerajaan.

           Penyerangan balasan oleh Gelgel atas pimpinan para patih menggunakan strategi perang yang cukup memusingkan musuh. Mereka mengambil jalan pintas melalui Bukit Jambul turun ke barat menyebrangi Sungai Jinah dan muncul di hutan Jati yang sangat lebat (kin daerah tersebut disebut Gunung Jati). Untuk mepelajari strategi penyerangan terpaksa mereka menetap agak lama di daerah itu. Oleh rakyat dibuatlah perumahan-perumahan yang menyerupai sebuah desa serta diberi nama Banjar Belimbing, sedangkan sebagai umat beragama yang selalu percaya akan adanya yang lebih kuasa, mereka tidak lupa membuat tempat persembahan yang kini tempat tersebut disebut "Pura Pucak Jati".

             Diceritakan bahwa Dalem Tarukan yang betul-betul ingin membendung kedatangan serangan balasan Gelgel sudah bersiap-siap jauh sebelum serangan Gelgel datang dan menghadang di bagian utara (kini daerah tersebut bernama daerah persawahan "Bukit Tahi").

            Dilain pihak dalam penyerangan rakyat Gelgel menuju Tarukan dijumpai dua kelompok bala tentara masing-masing bala tentara Gianyar dan Bangli yang keduanya bermaksud untuk menduduki/menundukkan Kerajaan Karangasem. Bala tentara Gianyar dalam pengaturan strategi tempurnya dalam penyerangan ke Karangasem menduduki daerah perswahan yang kini disebut "Selangit Desa". Sedangkan untuk tempat persembahyangan mereka berdiri sebuah pura yang bernama "Pura Dalem Muteran". Demikian pula untuk mendapatkan keselamatan dalam penyerangan menuju Karangasem, rakyat Bangli yang menempati daerah barat laut (komplek Toya Yeh Embang) membuat tempat persembahyangan yang diberi nama "Dalem Suladri". Sedangkan dalam mempersiapkan persenjataan, Bangli membuat tempat pengasah senjata yang diberi nama "Pura Pande", yang lokasinya sekarang di Banjar Kawan.

           Kedua kelompok pasukan yang berada di Selangit Desa dan Toya Embang tersebut disangka pasukan Dalem Tarukan, sehingga dengan tidak canggung-canggung lagi kedua kelompok pasukan tersebut diserang hasbis-habisan mengingat tidak adanya keseimbangan kekuatan dari kedua kelompok pasukan tadi, maka dengan sangat mudah dapat dikalahkan.

           Serangan berikutnya dilanjutkan sasaran utama yakni pasukan Dalem Tarukan. Sama halnya dengan kedua kelompok pasukan tadi, Dalem Tarukan dengan sangat mudah dapat dikuasai. Dalem segera mengisyaratkan kepada pasukannya untuk menyerah kalah dan tunduk kepada Gelgel. Namun sperti kita ketahui semula bahwa penyerangan Gelgel bukan sama sekali bermaksud untuk menundukkan serta menguasai musuh-musuhnya malah berlawanan dari perkiraan semula bahwa Gelgel semata-mata ingin menjalin hubungan persahabatan dengan semua pihak.

          Sebelum bala tentara Gianyar, Bangli serta Dalem Tarukan sempat melarikan diri masing-masing, mereka cepat dipanggil oleh Raja Gelgel untuk mengadakan perdamaian dalam suatu pertemuan yang dalam istilah dahulu disebut " Patemuan". Pertemuan bermaksud untuk memberikan penerangan agung untuk semua pihak yang pada mulanya terjadi kesalahpahaman dari masing-masing pihak sehingga mengakibatkan suatu pertempuran yang banyak memakan korban baik berupa materi maupun jiwa. Akhirnya keempat pihak tadi bersumpah untuk menghentikan dendam mereka untuk selanjutnya tidak saling menyerang lagi serta berjanji untuk menjalin hubungan persaudaraan dan tidak akan meninggalkan daerah tersebut. Sumpah tersebut diucapkan di suatu tempat yang berlokasi di Banjar Kaleran. Untuk mengenang janji tersebut dibuatlah sebuah Pura yang bernama "Pura Dalem Nyarikan".

               Berhubung daerah tersebut adalah jalan lintas dari berbagai daerah serta tempat pertemuan dari empat kelompok bala tentara tadi, maka disetujui pula pemberian nama terhadap daerah ini "Patemuan" yaitu tempat patemuan rakyat tadi untuk menjalin persaudaraan. Kata "Patemuan" itu berasal dari nama Desa Timuhun ini. Dalam proses perkembangan bahasa terjadilah kerancuan/perubahan bahasa sehingga kata "Pertemuan" berubah menjadi kata "Timuhun" yaitu nama Desa Timuhun yang sekarang ini.

               Demikianlah sejarah asala mula penduduk Desa Timuhun sampai dengan sejarah nama desa ini sendiri. Dalam perkembangannya Desa Timuhun pernah dipimpin oleh Kepala Desa sebagai berikut :

  1.  I Wayan Saji (1955-1972)
  2. I Dewa Gede Tjeger (1972-1990)
  3. I Wayan Tjatra (1990-1998)
  4. I Wayan Musna (1998-2006)
  5. I Putu Arsana (2007-sekarang)       
  • Dibaca: 397 Pengunjung